Usai Ditahan, Jerinx SID akhirnya Minta Maaf kepada IDI

Jerinx SID akhirnya resmi ditahan Polda Bali, pada Kamis (13/08) Pagi waktu setempat. Pihak berwajib menetapkan status suami Nora Alexandra itu sebagai tersangka karena bukti-bukti yang ada sudah cukup jelas.

Seperti diketahui, diantara orang-orang yang berbicara tentang konspirasi Virus Corona, Jerinx adalah salah satu yang paling lantang menggemakan pendapatnya di Sosial Media.

Bahkan, pria berusia 41 tahun tersebut sampai ‘menghina’ Ikatan Dokter Indonesia alias IDI dengan sebutan ‘Kacung WHO’ beberapa waktu lalu. Tak ayal, postingan inipun lantas dilaporkan pihak IDI Bali.

Setelah proses yang memakan waktu singkat, Polda Bali langsung menangkap Jerinx tanpa paksaan di kediamannya.

Menariknya, setelah resmi ditahan, personil Grup Band Superman Is Dead tersebut meminta maaf kepada rekan-rekan dokter di IDI.

Namun, permohonan maaf ini bukan soal postingannya, dia hanya berempati karena tidak berniat untuk menyakiti para dokter yang ada di dalam IDI.

“Saya benar minta maaf sebagai bentuk empati saya kepada kawan-kawan IDI karena saya ingin menegaskan saya sekali lagi, saya tidak punya kebencian, saya tidak punya menghancurkan atau menyakiti perasaan kawan-kawan di IDI,” kata Jerinx di Mapolda Bali, Kamis lalu.

Dalam wawancara terpisah, Ketua IDI Bali I Gede Putra Suteja menganggap postingan Jerinx menghina organisasinya. Dia merasa tersinggung dan akhirnya sepakat melaporkan yang bersangkutan ke pihak berwajib.

“Iya kan dia menghina IDI, IDI kacungnya WHO, IDI ikatan ini-itu. Saya kan IDI juga manusia, punya rasa, itulah yang membuat menghina organisasi saya membuat tidak enaknya organisasi seolah-olah itu kan benar. Maka dari itu, kan kita serahkan ke proses hukum aja saya laporkan,” kata Suteja.

Sebelum Jerinx, ada juga publik figur lain yang ditahan pihak kepolisian karena menyuarakan pendapat mengenai kontroversi Virus Corona, dia adalah Anji, mantan vocalis Drive.

Tapi berbeda dengan Anji, Jerinx hanya merasa jengah dengan sistem dan aturan yang diterapkan Rumah Sakit-Rumah Sakit di Indonesia di tengah pandemi ini. Karena kebijakan tersebut, bahkan ada seorang ibu yang harus kehilangan bayinya.